Sunday, May 22, 2022
HomeReksadanaBeberapa Kesalahan Saat Berinvestasi di Reksa Dana

Beberapa Kesalahan Saat Berinvestasi di Reksa Dana

Investasi reksa dana menjadi semakin populer saat ini. Popularitas ini setidaknya ditunjukkan dengan peningkatan jumlah investor Reksa Dana. Popularitas reksa dana meningkat karena beberapa faktor, mulai dari pemasaran intensif yang dilakukan oleh sejumlah pihak (termasuk perusahaan pengelola investasi) hingga kemudahan bertransaksi melalui aplikasi pasar keuangan.

Akibatnya, keputusan itu bukan untung, tetapi rugi. Tidak ada salahnya kita belajar dari pengalaman berharga ini. Berikut beberapa kesalahan yang bisa dilakukan investor reksa dana saat membeli instrumen ini.

Asal Pilih Produk

Saat membeli reksa dana melalui aplikasi, calon investor akan dihadapkan pada begitu banyak pilihan produk reksa dana. Produk mana yang harus Anda beli? Produk mana yang akan memberikan keuntungan sesuai dengan tujuan finansial? Produk mana yang sesuai dengan profil risiko Anda?

Misalnya, seorang calon investor ingin berinvestasi hanya dalam waktu satu tahun (jangka pendek), maka jenis reksa dana yang bisa dipilih adalah reksa dana pasar uang. Sebaliknya, jika seorang investor ingin berinvestasi dalam jangka waktu yang lebih lama (misalnya tiga tahun) maka jenis reksa dana yang dapat dipilih adalah reksa dana saham.

Membeli dengan Harga Tinggi

Pada dasarnya, sama seperti harga instrumen investasi lainnya, harga reksa dana (NAB per unit penyertaan) dapat bergerak naik atau turun. Investor reksa dana tentu senang jika harga unitnya naik.

Namun, investor perlu berhati-hati jika harga reksa dana sudah naik terlalu tinggi. Kehati-hatian ini biasanya bisa diterapkan saat membeli reksa dana saham. Cara sederhana untuk menilai tinggi atau rendahnya harga satuan adalah dengan membandingkan harga satuan saat ini dengan harga satuan beberapa waktu lalu (misalnya satu tahun).

Jika harga sudah naik terlalu tinggi, misalnya 40%-50% maka investor bisa lebih berhati-hati. Mengapa? Seperti diketahui, reksa dana merupakan produk investasi yang “mengandung” produk investasi lainnya. Reksa dana saham berarti mengandung saham di dalamnya.

Harga saham yang sudah naik tinggi berpotensi turun. Tidak semua saham bisa bangkit kembali setelah turun bahkan saat pasar sedang heboh dan bergejolak (bullish market).

Anggapan seperti itu terlihat pada akhir 2020 dan awal 2021 ketika pasar saham sedang bullish. Saat itu, tidak semua reksa dana saham juga berubah menjadi hijau. Ada reksa dana ekuitas yang tetap berada di zona merah dan tidak banyak berubah setelah jatuh jauh karena jatuhnya pasar pada kuartal pertama tahun 2020.

Apa Resiko Tidak Membaca Lembar Fakta Dana?

Berdasarkan kategori ini, calon investor akan dihadapkan pada berbagai produk reksa dana pasar uang yang ditawarkan oleh perusahaan pengelola aset. Produk mana yang Anda beli? Jika calon investor membeli reksa dana melalui sebuah aplikasi, biasanya aplikasi tersebut akan menawarkan daftar produk.

Dari SL, calon investor setidaknya perlu memperhatikan beberapa hal. Dalam konteks reksa dana pasar uang, kinerja produk biasanya dibandingkan dengan kinerja deposito rata-rata. Jika kinerjanya di masa lalu selalu kalah dengan kinerja deposito, calon investor tidak punya alasan kuat untuk ngotot membeli produk tersebut. Masih banyak produk reksa dana menarik lainnya.

Tanpa tujuan

Mengapa tujuan-tujuan ini perlu ditetapkan? Salah satunya memudahkan investor untuk menghitung potensi keuntungan, mengevaluasi investasinya, dan mengetahui jenis reksa dana yang akan dipilih. Misalnya, seorang calon investor ingin mengumpulkan uang untuk merenovasi rumah di tahun depan.

Dengan konsep nilai sekarang, seorang investor dapat menghitung berapa banyak uang yang perlu diinvestasikan dalam reksa dana saat ini untuk mencapai jumlah uang tertentu di masa depan. Demikian artikel tentang beberapa kesalahan saat berinvestasi di reksa dana semoga bermanfaat untuk Anda.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular